International Scholarship and Education Expo Bogor 2010

BEM IPB mengadakan International Scholarship and Education Expo 2010 dengan berbagai sub-event pada tanggal 1-3 Oktober 2010. Acara ini bertajuk “See the World and Realize Your Dream for a Better Life”. Alumni Erasmus Mundus akan hadir di booth Erasmus Mundus untuk menjawab pertanyaan atau memberikan informasi juga akan memberikan presentasi tentang beasiswa dari Uni Eropa ini.

Poster scholarship expo Bogor 2010

Berikut beberapa highlight mengenai acara ini: (klik gambar poster untuk melihat poster ukuran lebih besar)

International Scholarship Expo and Presentation

  • (DAAD, AMINEF, IIEF, Kedutaan Perancis, NESO, British Council, Erasmus Mundus, etc)
  • 1-2 Oktober 2010 pkl.08.00-17.00 @ GWW IPB, tiket masuk Rp 5.000

International Seminar
Study Abroad: It’s More Than Just A Beautiful Memory;

  • 3 Oktober 2010 pkl.07.30-13.00 @ GWW IPB, Tiket: Rp 20.000
  • Sesi 1: Excellent Strategies To Goal International Scholarship menghadirkan Dr.Arif Satria, SP, MSi (Dekan FEMA), drg. Morita Subroto (alumni Erasmus Mundus & penulis buku “Tu Nunca Camina Solo (Kamu Tak Pernah Berjalan Sendiri, Catatan Perjalanan Meraih Mimpi)”, Yopina Galih Pertiwi, MA (peraih beasiswa Kedutaan Besar India – Ketua Umum Perhimpunan Pelajar Indonesia di India tahun 2009-2010)
  • Sesi 2: How to Live and Survive in Foreign Country? menghadirkan Dr. Ir. Abdul Basith, MS (dosen FEM), Siska Purniayanti (mahasiswa IPB peraih beasiswa 1 tahun di Jepang), Nirina Zubir (artis)

Cultural Festival

  • pameran budaya internasional (Jepang, Korea, Rusia, etc)
  • 3 Oktober 2010 pkl. 14.00-17.00 @ GWW IPB, tiket Rp 5.000

Cultural Night

  • malam budaya, pertunjukkan budaya international (Jepang, Korea, Indonesia, penampilan IPB International Student Forum, dll.)
  • 3 Oktober 2010 pkl. 18.30-21.00 @ GWW IPB, tiket Rp 5.000

Informasi lebih lengkap: bem.ipb.ac.id

Widiastuti Setyaningsih: Promosi Indonesia di Polandia

Ketika belajar di luar negeri, seringkali kita harus menjawab pertanyaan tentang negara kita. Bisa dipahami, orang pada dasarnya ingin tahu sesuatu yang asing atau baru. Dalam situasi ini, status kita bukan hanya sebagai pelajar tetapi juga sebagai wakil atau duta dari Indonesia. Berikut wawancara singkat dengan Widiastuti Setyaningsih, awardee Erasmus Mundus European Master in Quality in Analytical Laboratory, tahun masuk 2010. Widi ikut aktif dalam mempromosikan budaya Indonesia di Eropa dengan berpartisipasi dalam kegiatan museum di Gdansk, Polandia, pada bulan Mei 2010 yang lalu.

Widiastuti Setyaningsih

Halo, tolong perkenalkan diri dulu buat para pembaca.
Nama saya Widiastuti Setyaningsih, biasa dipanggil Widi. Saya belajar di program Erasmus Mundus European Master in Quality in Analitycal Laboratory (EMQAL) dan mulai kuliah bulan Februari 2010.

Di program EMQAL tersebut belajar apa?
Kami belajar tentang quality system management di laboratorium analitik. Analisisnya mencakup water analysis, food analysis, dan clinical analysis dengan tiga bidang perkuliahan wajib: (1) Quality Management; (2) Analytical Method; (3) Data Analysis.

Perkenalan Indonesia

Kegiatan promosi Indonesia yang kamu lakukan Mei yang lalu dalam rangka apa? Apa saja kegiatannya?
Dalam rangka malam museum Eropa 2010 (Noc Muzeow) pada tanggal 15 Mei 2010, banyak museum dan institusi budaya dibuka hampir gratis hingga larut malam. Saya berpartisipasi dalam workshop yang diadakan di Museum Nasional Etnologi Spichlerz Opacki di Gdansk-Oliwa, Polandia, dengan tema β€œAnak-anak dari Kepulauan Bunga”. Peserta workshop ini adalah anak-anak yang didampingi oleh orang tua. Mereka diperkenalkan dengan bahasa, alat musik, dan tarian Indonesia untuk kemudian mempraktekkannya bersama-sama.

Siapa penggagasnya? Siapa saja yang terlibat?
Ide workshop ini digagas oleh Ibu Jadwiga Mozdzer, pemilik Studio Moz Art di Gdansk yang kemudian dibantu oleh saya dan Bapak Lambertus Lako Soli. Bapak Lambertus adalah aktivis sosial dan seni yang tinggal di Polandia, sedang Ibu Jadwiga pernah mendapat beasiswa S3 untuk belajar di Institut Seni Indonesia di Yogyakarta. Saya bertemu Bapak Lambertus dan Ibu Jadwiga melalui KBRI di Warsawa.

Tari Dolenan dari Jawa Tengah

Tari apa yg ditunjukkan di sini?
Tari yang ditampilkan adalah Tari Dolenan yang merupakan tari kreasi baru Jawa Tengah. Tari tersebut menggambarkan seorang anak yang beranjak dewasa yang sedang bermain dan belajar bersolek.

Kamu dulu sudah pernah belajar tari dan angklung? Di mana?
Saya belajar tari sejak sekolah dasar tingkat pertama di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, sedangkan musik angklung saya pelajari secara instan pada saat memegang instrumennya di studio pada saat workshop πŸ˜€

Belajar bermain angklung

Peralatan yang dipakai di kegiatan ini didapat dari mana?
Sebagian alat musik seperti angklung dipinjam dari KBRI di Warsawa sedangkan kostum dan perlengkapan workshop yang lain (sampur, alat musik tabuh, sound system, dll) merupakan milik Studio Moz Art.

Bagaimana animo/tanggapan peserta workshop ini?
Workshop budaya Indonesia tersebut mendapat tanggapan sangat baik dari peserta dengan antusiasnya mereka berpartisipasi dalam semua kegiatan workshop yang dijalankan.

Menari bersama

Apa yg mereka tahu tentang Indonesia sebelumnya?
Belum banyak yang peserta ketahui tentang Indonesia kecuali mempunyai warna bendera yang sama dengan negara mereka.

Apakah ada kendala dalam kegiatan ini?
Tidak ada kendala yang berarti dalam kegiatan ini karena baik Ibu Jadwiga dan Bapak Lambertus fasih berbahasa Indonesia dan Polandia. Sebagian besar peralatan/perlengkapan workshop juga disediakan oleh Studio Moz Art. Selain itu, bantuan dari berbagai pihak turut mendukung workshop ini antara lain peminjaman alat musik dari KBRI dan publikasi oleh Museum.

Ada saran untuk pelajar Indonesia untuk promosi kebudayaan Indonesia?
Bergabung dengan studio kultural setempat untuk belajar seni (tari dan musik) untuk mendapatkan ide promosi budaya kita. Bahkan tidak tertutup kemungkinan juga mendapat kesempatan mempelajari budaya mereka untuk memperkaya ilmu seni budaya kita.

Widi dan Ibu Jadwiga MozdzerWidi dan Bapak Lambertus Lako Soli

Terima kasih, Widi!

Catatan tambahan:

  • Informasi tentang EMQAL bisa dilihat di http://cursos.ualg.pt/emqal/
  • Menilik situsnya di www.jmozdzer.com, Ibu Jadwiga sudah sering mengadakan workshop budaya Indonesia.
  • Bendera Polandia itu seperti bendera Indonesia yang terbalik.

European Higher Education Fair (EHEF) Jakarta 2010

Jika kamu ingin tahu tentang beasiswa Erasmus Mundus dari Uni Eropa atau beasiswa lain dari negara-negara di Eropa, jangan lewatkan:

European Higher Education Fair 2010
Tanggal: Sabtu-Minggu/9-10 Oktober 2010
Tempat: Kartika Expo Center, Balai Kartini
Jl Jend. Gatot Subroto kav 37
Jakarta 12950, Indonesia
Waktu: 10.00 – 18.00
Biaya Masuk: Gratis!
Registrasi: registrasi wajib, online atau pada waktu datang di pameran.

Alumni Erasmus Mundus akan hadir di acara tersebut, siap untuk berbagi informasi. Jadi, sempatkan waktu di akhir pekan tersebut! Oya, jangan lupa registrasi online di link ini. Lakukan online sebelum datang ke acara karena jika tidak, kamu akan diminta untuk registrasi di tempat pameran yang bisa mengurangi waktu kamu mencari informasi di pameran tersebut.

European Higher Education Fair 2010

Baca juga: Tips Mengunjungi EHEF Jakarta 2010, liputan EHEF Jakarta 2008 dan situs resmi EHEF Jakarta 2010, ehefjakarta.org.

Tinggal di Eropa, bisa dapat beasiswa Erasmus Mundus?

Mengutip Ninin:

Thu, 09/16/2010 – 09:41

Saya WNI yang tinggal di Inggris, karena suami English. Saya ingin bisa mendapatkan beasiswa S2 atau S3 dalam bidang pendidikan. S1 saya di IAIN (sekarang UIN) Sunan Kalijaga Yogakarta. S2 saya di Universitas Muhammadiyah Solo, tapi belum selesai (tinggal menyelesaikan thesis). Bisakah saya mendapatkan beasiswa Erasmus Mundus ?

Terima kasih atas perhatiannya, Ninin

Halo Ninin, beasiswa Erasmus Mundus yang sering dibahas adalah Erasmus Mundus Action 1 Category A yang salah satu syarat eligibility-nya adalah pendaftar tidak boleh tinggal/belajar/melakukan kegiatan lainnya di Eropa selama lebih 12 bulan dalam 5 tahun terakhir. Ada juga beasiswa Action 1 Category B untuk mahasiswa Eropa (atau pendaftar yang sudah tinggal lebih dari satu tahun di Eropa dalam 5 tahun terakhir). Menurut informasinya:

The amount of scholarship awarded varies depending on whether the student has carried out their main activities (studies, work etc) for more than 12 months in Europe over the last 5 years or not.

Cek lagi di website program yang kamu minati (daftar program ada di http://j.mp/mundusmaster dan http://j.mp/mundusphd ). Periksa dengan detil eligibility-mu, jika masih bingung hubungi penanggung jawab/sekretaris program.

Oya, jujur saja saya belum terlalu paham dengan beasiswa category B ini, jadi infonya mungkin kurang lengkap/tepat. Silakan baca di http://eacea.ec.europa.eu/erasmus_mundus/index_en.php

Surat Rekomendasi Beasiswa: 5 Hal Penting

Facebook like stamp

Setiap pendaftaran beasiswa hampir pasti memerlukan surat referensi atau surat rekomendasi (reference letter atau sering juga disebut recommendation letter). Banyak pertanyaan sejenis yang ditanyakan prospective students tentang surat ini. Berikut beberapa tips bersumber dari pendapat dan pengalaman saya yang juga berdasarkan hasil diskusi dengan beberapa rekan penerima beasiswa.

1. Teliti syarat surat referensi

Persyaratan yang dicantumkan untuk mendaftar beasiswa, umumnya juga menjelaskan hal-hal penting termasuk siapa yang diharapkan menjadi referee (yang memberikan reference letter), format surat, dan cara pengiriman. Baca dengan teliti dan ikuti persyaratan yang dicantumkan.

2. Siapa yang sebaiknya jadi referee?

Idealnya bukan hanya orang-orang yang punya jabatan tinggi (rektor, dekan, ketua jurusan, dll), tetapi yang lebih penting adalah yang benar-benar mengenal kamu. Dosen pembimbing skripsi/tugas akhir semestinya bisa mengomentari kemampuan risetmu. Dosen pembimbing kemahasiswaan/dosen wali bisa punya pendapat bagus tentang kemampuan organisasimu atau sepak terjangmu selama kegiatan perkuliahan S1. Tapi bisa jadi jabatan penting/gelar akademik tinggi dari reference punya nilai lebih.

Bila sudah punya pengalaman kerja, tentu sangat penting mendapatkan rekomendasi dari atasan kerja. Sekali lagi, orang yang lebih tepat adalah yang tahu langsung bagaimana skill dan kinerja profesionalmu.

Turuti persyaratan, jika diminta surat rekomendasi dari akademisi, meski kamu sudah berpengalaman kerja lebih dari 2 tahun, tetap penuhi syarat tersebut. Sebaliknya, jika tidak ditentukan siapa yang harus memberikan rekomendasi, keputusan ada di tanganmu. Pilih orang-orang yang bisa memberi nilai positif untuk memperkuat aplikasi beasiswamu.

3. Format dan “bungkus”

Beberapa program meminta referee mengisi template/form/tabel, mencentang pilihan (dalam rangka memberi nilai sang prospective student), atau membuat surat bebas. Intinya, ikuti peraturan yang ada. Jika tidak ditentukan, maka referee bebas menentukan format surat rekomendasi (biasanya berbentuk surat biasa).

“Bungkus” surat rekomendasi yang baik adalah atas nama institusi, tertulis di kertas berkop, amplop berkop, dan ada cap. Amplop harus tersegel (dengan cap lagi atau tanda tangan) yang menandakan referee menulis surat itu tanpa diketahui isinya oleh pendaftar beasiswa. Bisa saja rekomendasi diberikan atas nama pribadi (misal karena referee tidak berhak mewakili institusi). Meski begitu, jabatan/profesi referee serta data kontaknya (alamat email dan pos) harus tetap dicantumkan.

4. Isi surat rekomendasi

Bagian ini sepertinya layak untuk dibuat post tersendiri. Isi surat rekomendasi ya rekomendasi πŸ™‚ Hal-hal yang harus ada:

  • Siapa (jabatan/profesi) pemberi rekomendasi dan hubungannya dengan pendaftar beasiswa. Ini akan menjawab kenapa rekomendasi dari dia layak diperhatikan.
  • Rekomendasi: alasan kenapa sang pendaftar beasiswa layak mendapat beasiswa. Bisa karena prestasi kuliah, kegiatan ekstra kurikuler, prestasi dan performa kerja, dll.

Silakan cari contoh atau template surat rekomendasi lewat mesin pencari.

5. Tanggal/Up to date

Punya “stok” surat rekomendasi yang dibuat tahun lalu? Jangan dipakai, minta referee buat yang baru πŸ˜€

Sebenarnya masih banyak yang bisa digali dari surat rekomendasi. tapi topik ini akan dibahas lagi di artikel-artikel berikutnya. Jika ada pertanyaan, sanggahan, atau tambahan, jangan sungkan untuk berkomentar melalui form di bawah. Silakan juga berbagi lewat Facebook/Twitter dengan tombol Share berikut.

Photo credit: [1]

Tips Bertanya tentang Beasiswa

Question Mark

Baru-baru ini ada diskusi yang sangat menarik di milis awardee dan alumni Erasmus Mundus dari Indonesia (indoem). Kita sekarang berada di bulan-bulan pendaftaran beasiswa Erasmus Mundus. Dalam memburu beasiswa ini, masih banyak pula prospective students yang punya (banyak) pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan tersebut lah yang menjadi bahan diskusi. Saya mencoba menyimpulkan beberapa poin dari diskusi tersebut (ditambah dengan opini pribadi) dan menyajikannya dalam bentuk daftar tips (dos & don'ts) bertanya tentang beasiswa (tidak hanya tentang Erasmus Mundus). Tujuannya tentu agar pertanyaan dari peminat beasiswa bisa terjawab.

Dos (Sangat dianjurkan)

Question Mark

  • Paling penting: teliti membaca informasi resmi. Langkah ini yang paling krusial dan menentukan apakah penanya serius bertanya atau tidak. Keseriusan penanya langsung terlihat ketika pertanyaannya mencerminkan orang yang teliti membaca informasi resmi dari website program yang diminati.
  • Inisiatif dan tunjukkan usaha. Salah satu tips sukses beasiswa adalah inisiatif yang tinggi. Bantu orang yang ditanya dengan menjelaskan usaha-usaha yang telah dilakukan. Dengan menunjukkan langkah-langkah yang pernah ditempuh, awardee/alumni bisa terbantu dalam memberikan jawaban dan lebih tergerak untuk membantu. Baca lagi pertanyaan-pertanyaan yang pernah diajukan oleh orang lain, sangat mungkin jawaban yang sudah pernah diberikan sebelumnya relevan untuk kasus penanya.
  • Jelas, singkat, dan to the point. Pertanyaan yang potensial cepat dijawab adalah yang langsung ke pokok persoalan tanpa berputar-putar. Coba susun pertanyaan dalam kalimat-kalimat pendek atau bullet points.
  • Mandiri. Sadari bahwa mungkin tidak akan ada jawaban yang benar-benar memuaskan. Bahkan mungkin bakal tidak ada jawaban. Penyebabnya bermacam-macam: mulai tidak ada yang bisa menjawab (belum ada awardee/alumni untuk suatu program), pertanyaan yang dilontarkan tidak jelas (sehingga membuat bingung yang sudah berniat membantu), atau karena kasus penanya terlalu spesifik sehingga belum ada yang punya ide untuk menjawab. Jika sudah begini, kemandirian untuk membuat keputusan dan maju sendiri dalam rangka mendaftar akan menentukan apakah sang penanya "hanya bisa bertanya" atau siap menuju sukses.
  • Netiket. Jika pertanyaannya diajukan dalam media online, gunakan netiket. Tidak perlu bahasa formal, tapi bahasa yang baik. Buat thread baru bila bertanya di mailing list, jangan “membajak” thread orang lain, apalagi yang tidak berhubungan. Gunakan subjek yang baik dan berhubungan dengan isi email. Jika belum ada jawaban, tidak perlu bertanya hal yang sama berulang-ulang, lihat poin “mandiri” di atas.

Don'ts (Hindari)

Question mark

  • Pertanyaan satu kalimat. Pertanyaan yang terlalu pendek sangat mungkin membuat orang bingung sehingga enggan menjawab.
  • Minta email/japri, nomor ponsel, CV, Motivation Letter, dan sejenisnya. Data/dokumen tersebut adalah sesuatu yang personal dan bukan untuk umum. Membawa diskusi ke japri malah merepotkan karena hanya bermanfaat untuk sang penanya. Orang lain jadi tidak punya akses ke solusi yang mungkin dihasilkan penjawab. Dengan menggunakan jalum/website/forum/milis, pertanyaan dan jawaban jadi bisa diacu (melalui link) sehingga pertanyaan-pertanyaan serupa tidak perlu berulang-ulang dijawab. Contoh atau template CV, motivation letter, dan sejenisnya sudah banyak di Internet, gunakan mesin pencari untuk menemukannya.
  • "Bantuin saya dong"/"Mohon doanya". Awardee/alumni semua menginginkan makin banyaknya orang Indonesia yang mendapat beasiswa Erasmus Mundus. Tapi ketika ada embel-embel “paksaan” agar dibantu/minta doa, seolah-olah mengesankan keegoisan penanya karena "menyuruh" semua orang ikut andil dalam kesuksesan penanya. Bisa jadi ada orang yang tersinggung dan akhirnya enggan menjawab (saya salah satunya). Tambahan, contoh yang saya maksud: “Saya lulusan X berminat untuk mendaftar beasiswa program Y. Mohon bantuannya”. Pendek, tidak jelas plus embel-embel “mohon bantuan” yang tidak perlu.

Intinya, jangan sungkan bertanya jika mengalami kesulitan/kebingungan. Daftar di situs indoem.info (atau gunakan Facebook/Twitter account) dan gunakan fasilitas Forum untuk bertanya. Tapi ingat, penanya yang baik adalah yang dapat membantu orang yang ingin menjawab pertanyaannya πŸ™‚ Setuju? Tidak setuju? Punya tips bertanya yang lain? Silakan gunakan form komentar di bawah untuk mengemukakan pendapatmu.

Tambahan: contoh untuk poin “bantuin dong/mohon bantuannya” dan poin “netiket”

Photo credit: [1], [2], [3]

Tips Meningkatkan Peluang Mendapat Beasiswa

Tahun lalu menjadi reserve list? Sedang berpikir apakah sebaiknya mendaftar lagi tapi bingung apa yang harus dilakukan supaya tahun ini bisa masuk main list? Berikut adalah saduran* dari presentasi Nova yang dapat membantumu. Presentasi ini diberikan dalam acara Coaching Consultation untuk reserve list bersamaan dengan Predeparture Briefing beberapa waktu lalu.

Catatan: Jika belum pernah masuk reserve list (daftar cadangan penerima beasiswa) atau baru pertama akan mendaftar beasiswa Erasmus Mundus, kamu juga bisa mengambil beberapa poin penting yang akan membantu pendaftaranmu. Nova adalah alumna CoDe (Joint European Master in Comparative Local Development), program yang mensyaratkan pendaftarnya membuat research proposal. Presentasi Nova memang menekankan perbaikan research proposal, tapi saran-sarannya bisa berguna untuk pendaftar yang lain misalnya dalam menulis motivation letter/statement of purpose. Nova pernah masuk reserve list di tahun 2007 kemudian mendapat beasiswa Erasmus Mundus (masuk main list) di tahun 2008.

1. Mengapa saya berada di reserve list?

Nova mengajak untuk berpikir positif dengan memaparkan beberapa alasan yang mungkin:

  • Hanya ada kuota dua orang dari Indonesia sedang kamu di posisi ketiga terbaik.
  • Pengalamanmu masih kurang dibanding orang yang terpilih.
  • Kamu berasal dari kota besar (untuk beberapa program ini bisa berpengaruh).
  • Pihak konsorsium universitas tidak merasa yakin memiliki sumber daya kompeten untuk membimbing penelitian yang kamu usulkan di research proposal.
  • Research proposalmu/motivation lettermu yang terbaik kedua/ketiga dibanding orang Indonesia yang terpilih.

2. Apa yang bisa saya tingkatkan untuk pendaftaran tahun ini?

Perbaiki research proposal/motivation lettermu. Ada banyak alasan organisasi/pemerintah memberi beasiswa. Cari tahu kriteria penerima beasiswa yang mereka cari. Bisa jadi mereka mencari orang yang berpengalaman di bidang X dan berkomitmen untuk pulang ke negara asal dan menerapkan ilmunya untuk mengembangkan daerahnya. Tulis proposal yang inovatif dan menjawab kepentingan pemberi beasiswa, sehingga menunjukkan bahwa kamu adalah pilihan yang tepat.

Menurut Nova, beberapa hal yang perlu diingat:

  • Perhatikan panduan penulisan motivation letter/research proposal di website resmi program.
  • Pihak universitas pastinya ingin memilih penelitian yang dapat memberi nilai tambah pada penelitia-penelitian mereka. Sesuaikan pendaftaranmu dengan informasi yang tersedia tentang universitas dan program yang kamu pilih.
  • Sekali lagi, jangan hanya melihat keinginan/kemampuan diri tapi juga perhatikan apa yang dicari oleh pihak pemberi beasiswa dan kompetensi universitas.

3. Tips dan kesimpulan

Nova mengakhiri presentasinya dengan memberikan beberapa tips berikut:

  • Jangan takut untuk lebih meruncingkan topik proposal.
  • Definisikan tujuan penelitian dengan jelas. Jika mungkin, tujuan tetap dengan proposal sebelumnya (agar konsisten) tapi tingkatkan misalnya di bidang metodologi.
  • Perhatikan detil. Pemilihan kata bisa jadi berpengaruh besar.
  • Proposal penelitian memang harus menjawab kepentingan pemberi beasiswa, tapi jangan lupa idealisme sendiri.
  • Minta bantuan orang lain (yang kompeten) untuk membaca dan memberikan pendapat tentang proposal/motivation letter sebelum dikirim.
  • Cari informasi beasiswa lain: dari universitas, informasi dari mailing list beasiswa, beasiswa dari pemerintah dan organisasi internasional.

Intinya, masuk reserve list tahun lalu? Daftar lagi dan raih mimpimu! Semoga sukses!

* Disadur dengan ijin. Terima kasih, Nova!

Baca juga: 5 Tips Sukses Beasiswa Erasmus Mundus

Photo credit: [1]

About Erasmus Mundus 2009-2013

Saya membaca dari link erasmus

The European Commission is responsible for the running of the Erasmus Mundus Programme 2009-2013. It manages the budget and sets priorities, targets and criteria for the Programme. Furthermore, it guides and monitors the general implementation, follow-up and evaluation of the Programme at European level.

β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”-

Apakah ini berarti semua program yg dibuka pada tahun itu akan berakhir pada 2013 ? Lalu akan digantikan dengan program EM baru ?

Terimakasih

Statistik Jumlah Penerima Beasiswa Erasmus Mundus dari Indonesia

Grafik jumlah penerima beasiswa Erasmus Mundus dari Indonesia (2004-2010)

Sejak tahun 2004, sudah 264 orang dari Indonesia yang mendapat beasiswa Erasmus Mundus. Datanya, yang bersumber dari Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia, bisa dilihat pada grafik di atas (klik gambar untuk melihat versi lebih besar). Update: baca juga Erasmus Mundus Statistics, Information on the numbers of students and scholars selected for scholarships under Erasmus Mundus Masters Courses, arranged per country.

Data jumlah awardee dibagi menjadi students dan scholars. Scholars adalah peneliti (biasanya dosen) yang diberi grant untuk melakukan penelitian dan juga mengajar di beberapa universitas di Eropa. Biasanya periode grant-nya hanya beberapa bulan. Data scholars tahun 2010 belum ada karena periode pendaftaran yang panjang. Students adalah mahasiswa yang diberi beasiswa untuk belajar di sedikitnya 2 universitas di 2 negara di Eropa. Untuk tahun 2010, 2 di antara 44 orang (hingga kini) students akan menempuh program joint doctorate (S3). Sebelumnya, yang diberi beasiswa hanya students untuk master course (S2). Data 2010 masih bisa berubah karena yang di daftar cadangan (reserve list) masih bisa mendapat beasiswa (masuk ke main list) karena misalnya ada yang mengundurkan diri. Sebagai contoh, di bulan Desember 2007 ada anggota reserve list dari Indonesia yang akhirnya masuk main list untuk kemudian berangkat ke Eropa untuk menyusul perkuliahan yang sudah dimulai.

Apa yang bisa dilihat dari statistik ini?

Jumlah awardee dari Indonesia memang menurun drastis di tahun ini. Untuk tahun ajaran 2010, dimunculkan kategori baru oleh Komisi Eropa tentang student yang dapat menerima beasiswa. Kalau dulu hanya yang dari negara-negara ketiga, kini dari negara manapun bisa mendaftar beasiswa Erasmus Mundus. Erasmus Mundus Scholarship Category A adalah jatah untuk third countries sedang Category B untuk pendaftar dari negara lainnya (termasuk yang sudah tinggal di selain third countries). Ditambah dengan sekarang ada batasan untuk tiap program hanya menerima maksimal 2 orang dari tiap negara. Dulu, pernah ada 3 orang dari Indonesia yang diterima di program dan dalam waktu yang sama. Intinya, penyebab turunnya jumlah awardee dari Indonesia adalah persaingan yang semakin ketat. Apalagi sekarang beasiswa Erasmus Mundus makin dikenal masyarakat “pemburu beasiswa”.

Data grafik di atas disajikan kembali pada tabel berikut.

Academic Year Students Scholars Subtotal
2004-2005 9 0 9
2005-2006 14 1 15
2006-2007 21 2 23
2007-2008 39 4 43
2008-2009 66 2 68
2009-2010 55 7 62
2010-2011 44 0 44
Total 248 16 264

Apa yang bisa dilakukan dengan adanya data ini?

Jadikan dirimu menonjol di tengah banyaknya pendaftar. Tips singkat:

  • Teliti dalam melengkapi syarat-syarat pendaftaran. Lewat sedikit saja, peluangmu akan jatuh, bahkan bisa lenyap.
  • Buat CV dan statement of purpose (motivation letter) yang menjual. Jangan hanya curhat cita-cita dan hobby tapi sesuaikan dengan tujuan program yang kamu daftar. Jawab pertanyaan ini: Mengapa kamu layak dapat beasiswa ini? Mengapa harus kamu, bukan orang lain?
  • Pastikan dapat surat rekomendasi dari orang yang “tepat”. Jangan hanya meminta rektor atau dekan yang hanya tahu nama/nomor indukmu, tapi pertimbangkan juga dosen pembimbing skripsi atau dosen wali yang benar-benar tahu sepak terjangmu ketika masih kuliah.
  • Jangan menawar-nawar persyaratan English test. Segera persiapkan untuk tes versi internasional bukan institusional. Kalau ada ratusan pendaftar dengan hasil tes internasional, kenapa pemberi beasiswa harus memilih yang “hanya” punya hasil tes institusional?
  • Persiapkan dari sekarang, beberapa program sudah membuka pendaftaran untuk 2011.

Baca juga:

TOEFL vs IELTS

TOEFL vs IELTS logo

Note: this post is about English test, so I appropriately wrote in English.

One important requirement in most scholarship applications is a valid and recent English test score. TOEFL and IELTS are two competing English test brands. Most scholarship provider will gladly accept any one result of the two. I will tell you how these two English tests compared to each other, boxing match style. Without further ado, on the red corner, we have TOEFL, a name that comes to mind when people in Indonesia speaks about English tests. Now on the blue corner, we have IELTS, an alternative English test that is also quite known especially for Indonesians who want to continue their study in Australia.

Round 0: Get the Official International Version

Before we begin, I must stress that for your scholarship applications always get the official international version of the English test. Do *not* get the institutional, mock-up, trial, prediction or anything else other than the internationally accepted English tests. If you don’t use the international versions, your chance of being awarded the scholarship will be next to zero. Get the international version of the tests from official test centres listed below.

Round 1: Test Format

Keyboard vs pen and paper

In Indonesia, there is no Paper-based TOEFL or Computer-based TOEFL anymore. ETS only offers Internet-based TOEFL (iBT) on its official test centres. What does this mean? If you want to take TOEFL you’ll have to be accustomed to doing the test using a computer over the internet. The speaking section is done with you answering questions into a microphone. The recorded answers will be marked by up to 6 individual raters. You will also have to complete the writing section by typing your answers with a keyboard. IELTS still adopts the old-fashioned paper-and-pencil format. The test takers will have to use a pencil (or two, or a pen for that matter) to write the answers on an answering sheet. The speaking section is conducted by answering an actual interviewer face-to-face, while still being recorded.

Round 2: Fees

Straight to the point, in 2010, iBT TOEFL costs USD150 and IELTS costs USD180 USD195 (as of September 2010).

Round 3: Test Centres

You should choose the English test with test centres most convenient to you.
TOEFL is offered in various centres in Bandung, Batam, Denpasar, Jakarta, Malang, Medan, Pekanbaru, Salatiga, Samarinda, Semarang, Surabaya, Yogyakarta.
IELTS is offered in Bali, Balikpapan, Bandung, Batam, Surabaya, Jakarta, Makassar, Malang, Manado, Semarang, Solo, Medan, Yogyakarta.

Round 4: Scoring System

iBT TOEFL has a band score from 0 to 120, with total scores around 89 considered minimum for a scholarship application. IELTS has a slightly simpler scoring system ranging from 0 to 9, with average score of 6.5 as a minimum for a scholarship application.

The Winner

Champions CupIf I were the judge of this match, I would declare IELTS as the winner of this match. Even though it is more expensive, the old fashioned paper-and-pencil format is more suitable for me. I also prefer doing the speaking section face-to-face with an actual living person. I also think that IELTS’ simpler scoring system may benefit test takers since the average score is rounded to the nearest 0.5 increment. TOEFL proponents will say that its speaking section is more objective (being graded by 3-6 independent raters) and it is more commonly accepted worldwide (which is technically not true since IELTS is also widely accepted). But I can’t decide for you. You should choose the most suitable test for yourself. I would say one thing though, be committed and put your efforts to be successful in any English test you take.

You can also read more information on TOEFL and IELTS (in Bahasa Indonesia). Any questions? Write your comments below.