Tips Bertanya tentang Beasiswa

Question Mark

Baru-baru ini ada diskusi yang sangat menarik di milis awardee dan alumni Erasmus Mundus dari Indonesia (indoem). Kita sekarang berada di bulan-bulan pendaftaran beasiswa Erasmus Mundus. Dalam memburu beasiswa ini, masih banyak pula prospective students yang punya (banyak) pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan tersebut lah yang menjadi bahan diskusi. Saya mencoba menyimpulkan beberapa poin dari diskusi tersebut (ditambah dengan opini pribadi) dan menyajikannya dalam bentuk daftar tips (dos & don'ts) bertanya tentang beasiswa (tidak hanya tentang Erasmus Mundus). Tujuannya tentu agar pertanyaan dari peminat beasiswa bisa terjawab.

Dos (Sangat dianjurkan)

Question Mark

  • Paling penting: teliti membaca informasi resmi. Langkah ini yang paling krusial dan menentukan apakah penanya serius bertanya atau tidak. Keseriusan penanya langsung terlihat ketika pertanyaannya mencerminkan orang yang teliti membaca informasi resmi dari website program yang diminati.
  • Inisiatif dan tunjukkan usaha. Salah satu tips sukses beasiswa adalah inisiatif yang tinggi. Bantu orang yang ditanya dengan menjelaskan usaha-usaha yang telah dilakukan. Dengan menunjukkan langkah-langkah yang pernah ditempuh, awardee/alumni bisa terbantu dalam memberikan jawaban dan lebih tergerak untuk membantu. Baca lagi pertanyaan-pertanyaan yang pernah diajukan oleh orang lain, sangat mungkin jawaban yang sudah pernah diberikan sebelumnya relevan untuk kasus penanya.
  • Jelas, singkat, dan to the point. Pertanyaan yang potensial cepat dijawab adalah yang langsung ke pokok persoalan tanpa berputar-putar. Coba susun pertanyaan dalam kalimat-kalimat pendek atau bullet points.
  • Mandiri. Sadari bahwa mungkin tidak akan ada jawaban yang benar-benar memuaskan. Bahkan mungkin bakal tidak ada jawaban. Penyebabnya bermacam-macam: mulai tidak ada yang bisa menjawab (belum ada awardee/alumni untuk suatu program), pertanyaan yang dilontarkan tidak jelas (sehingga membuat bingung yang sudah berniat membantu), atau karena kasus penanya terlalu spesifik sehingga belum ada yang punya ide untuk menjawab. Jika sudah begini, kemandirian untuk membuat keputusan dan maju sendiri dalam rangka mendaftar akan menentukan apakah sang penanya "hanya bisa bertanya" atau siap menuju sukses.
  • Netiket. Jika pertanyaannya diajukan dalam media online, gunakan netiket. Tidak perlu bahasa formal, tapi bahasa yang baik. Buat thread baru bila bertanya di mailing list, jangan “membajak” thread orang lain, apalagi yang tidak berhubungan. Gunakan subjek yang baik dan berhubungan dengan isi email. Jika belum ada jawaban, tidak perlu bertanya hal yang sama berulang-ulang, lihat poin “mandiri” di atas.

Don'ts (Hindari)

Question mark

  • Pertanyaan satu kalimat. Pertanyaan yang terlalu pendek sangat mungkin membuat orang bingung sehingga enggan menjawab.
  • Minta email/japri, nomor ponsel, CV, Motivation Letter, dan sejenisnya. Data/dokumen tersebut adalah sesuatu yang personal dan bukan untuk umum. Membawa diskusi ke japri malah merepotkan karena hanya bermanfaat untuk sang penanya. Orang lain jadi tidak punya akses ke solusi yang mungkin dihasilkan penjawab. Dengan menggunakan jalum/website/forum/milis, pertanyaan dan jawaban jadi bisa diacu (melalui link) sehingga pertanyaan-pertanyaan serupa tidak perlu berulang-ulang dijawab. Contoh atau template CV, motivation letter, dan sejenisnya sudah banyak di Internet, gunakan mesin pencari untuk menemukannya.
  • "Bantuin saya dong"/"Mohon doanya". Awardee/alumni semua menginginkan makin banyaknya orang Indonesia yang mendapat beasiswa Erasmus Mundus. Tapi ketika ada embel-embel “paksaan” agar dibantu/minta doa, seolah-olah mengesankan keegoisan penanya karena "menyuruh" semua orang ikut andil dalam kesuksesan penanya. Bisa jadi ada orang yang tersinggung dan akhirnya enggan menjawab (saya salah satunya). Tambahan, contoh yang saya maksud: “Saya lulusan X berminat untuk mendaftar beasiswa program Y. Mohon bantuannya”. Pendek, tidak jelas plus embel-embel “mohon bantuan” yang tidak perlu.

Intinya, jangan sungkan bertanya jika mengalami kesulitan/kebingungan. Daftar di situs indoem.info (atau gunakan Facebook/Twitter account) dan gunakan fasilitas Forum untuk bertanya. Tapi ingat, penanya yang baik adalah yang dapat membantu orang yang ingin menjawab pertanyaannya 🙂 Setuju? Tidak setuju? Punya tips bertanya yang lain? Silakan gunakan form komentar di bawah untuk mengemukakan pendapatmu.

Tambahan: contoh untuk poin “bantuin dong/mohon bantuannya” dan poin “netiket”

Photo credit: [1], [2], [3]

Comments

  1. Galih Doang says:

    Oh, ‘bantuin dong’ dan ‘mohon doanya’ itu terdengar egois ya.. Ga pernah bener-bener mikirin itu :p

    Oya, mau nambah aja, ini pengalaman dari sebuah milis (bukan indoem). Ada yang nanya pertanyaan yang sama berulang-ulang dan emailnya dikirimkan sebagai reply dari email-email lain tanpa mengubah subyek email. Jadinya, subyek dan isinya ‘ga nyambung’! Bener-bener bikin gemes, baik mengulang pertanyaan yang sama berkali-kali maupun kesan memotong diskusi di sebuah thread email dengan pertanyaan yang tidak relevan.

    Ini mungkin bukan sekadar etiket bertanya aja yang dilanggar, tapi juga netiket dalam ber-email. Dan ‘sayangnya’ juga, ga semua orang bersedia ‘mengingatkan’ tata cara atau hal-hal seperti ini.

    Makasih artikelnya!

    • raizamn says:

      Sudah ditambahkan contoh “mohon bantuannya” dan “netiket”. Trims yak!

  2. Lebih menggemaskan lagi ketika kita sudah memberikan semua beasiswa informasi yang ada dengan bersemangat, si penanya berkomentar :

    “Saya masih tingkat satu sih .. Jadi masih beberapa taun lagi apply nya .. Thanks info nya .. ”

    Anak-anak muda memang menggemaskan 🙂 (tidak ada salah nya juga sih cari info sejak dini)

    • raizamn says:

      Haha… memang begitu sih Sand. Kadang-kadang menggemaskan sekali hanya pakai satu kalimat k thx bai (a la alay jaman sekarang).

  3. dan kita sudah mulai menjadi generasi jadul ..

  4. ah, senangnya menemukan tulisan ini! kadang saya ngerasa “doakan saya ya!” atau “boleh minta cv/motivation letter?” sebagai pernyataan yang (agak) egois, tapi suka ga enak bilangnya… hehehe. biasanya sih, kalau nemu yang begitu, saya suruh si penanya untuk googling. soalnya, kalau mereka ga mau, patut dipertanyakan tuh niat cari beasiswanya… masa segitu ga punya inisiatifnya sampai googling aja males :D. terima kasih banyak!