Surat Rekomendasi Beasiswa: 5 Hal Penting

Facebook like stamp

Setiap pendaftaran beasiswa hampir pasti memerlukan surat referensi atau surat rekomendasi (reference letter atau sering juga disebut recommendation letter). Banyak pertanyaan sejenis yang ditanyakan prospective students tentang surat ini. Berikut beberapa tips bersumber dari pendapat dan pengalaman saya yang juga berdasarkan hasil diskusi dengan beberapa rekan penerima beasiswa.

1. Teliti syarat surat referensi

Persyaratan yang dicantumkan untuk mendaftar beasiswa, umumnya juga menjelaskan hal-hal penting termasuk siapa yang diharapkan menjadi referee (yang memberikan reference letter), format surat, dan cara pengiriman. Baca dengan teliti dan ikuti persyaratan yang dicantumkan.

2. Siapa yang sebaiknya jadi referee?

Idealnya bukan hanya orang-orang yang punya jabatan tinggi (rektor, dekan, ketua jurusan, dll), tetapi yang lebih penting adalah yang benar-benar mengenal kamu. Dosen pembimbing skripsi/tugas akhir semestinya bisa mengomentari kemampuan risetmu. Dosen pembimbing kemahasiswaan/dosen wali bisa punya pendapat bagus tentang kemampuan organisasimu atau sepak terjangmu selama kegiatan perkuliahan S1. Tapi bisa jadi jabatan penting/gelar akademik tinggi dari reference punya nilai lebih.

Bila sudah punya pengalaman kerja, tentu sangat penting mendapatkan rekomendasi dari atasan kerja. Sekali lagi, orang yang lebih tepat adalah yang tahu langsung bagaimana skill dan kinerja profesionalmu.

Turuti persyaratan, jika diminta surat rekomendasi dari akademisi, meski kamu sudah berpengalaman kerja lebih dari 2 tahun, tetap penuhi syarat tersebut. Sebaliknya, jika tidak ditentukan siapa yang harus memberikan rekomendasi, keputusan ada di tanganmu. Pilih orang-orang yang bisa memberi nilai positif untuk memperkuat aplikasi beasiswamu.

3. Format dan “bungkus”

Beberapa program meminta referee mengisi template/form/tabel, mencentang pilihan (dalam rangka memberi nilai sang prospective student), atau membuat surat bebas. Intinya, ikuti peraturan yang ada. Jika tidak ditentukan, maka referee bebas menentukan format surat rekomendasi (biasanya berbentuk surat biasa).

“Bungkus” surat rekomendasi yang baik adalah atas nama institusi, tertulis di kertas berkop, amplop berkop, dan ada cap. Amplop harus tersegel (dengan cap lagi atau tanda tangan) yang menandakan referee menulis surat itu tanpa diketahui isinya oleh pendaftar beasiswa. Bisa saja rekomendasi diberikan atas nama pribadi (misal karena referee tidak berhak mewakili institusi). Meski begitu, jabatan/profesi referee serta data kontaknya (alamat email dan pos) harus tetap dicantumkan.

4. Isi surat rekomendasi

Bagian ini sepertinya layak untuk dibuat post tersendiri. Isi surat rekomendasi ya rekomendasi :) Hal-hal yang harus ada:

  • Siapa (jabatan/profesi) pemberi rekomendasi dan hubungannya dengan pendaftar beasiswa. Ini akan menjawab kenapa rekomendasi dari dia layak diperhatikan.
  • Rekomendasi: alasan kenapa sang pendaftar beasiswa layak mendapat beasiswa. Bisa karena prestasi kuliah, kegiatan ekstra kurikuler, prestasi dan performa kerja, dll.

Silakan cari contoh atau template surat rekomendasi lewat mesin pencari.

5. Tanggal/Up to date

Punya “stok” surat rekomendasi yang dibuat tahun lalu? Jangan dipakai, minta referee buat yang baru :D

Sebenarnya masih banyak yang bisa digali dari surat rekomendasi. tapi topik ini akan dibahas lagi di artikel-artikel berikutnya. Jika ada pertanyaan, sanggahan, atau tambahan, jangan sungkan untuk berkomentar melalui form di bawah. Silakan juga berbagi lewat Facebook/Twitter dengan tombol Share berikut.

Photo credit: [1]

Comments

  1. Saya WNI yang tinggal di Inggris, karena suami English. Saya ingin bisa mendapatkan beasiswa S2 atau S3 dalam bidang pendidikan. S1 saya di IAIN (sekarang UIN) Sunan Kalijaga Yogakarta. S2 saya di Universitas Muhammadiyah Solo, tapi belum selesai (tinggal menyelesaikan thesis). Bisakah saya mendapatkan beasiswa Erasmus Mundus ?

    Terima kasih atas perhatiannya,
    Ninin

  2. Ricardo says:

    Berdasarkan pengalaman admin,
    hal-hal apa sajakah yang seharusnya diberikan, oleh mahasiswa, kepada pemberi rekomendasi untuk dijadikan bahan pertimbangan dan masukan
    dalam pembuatan letter of recommendation?

    Terima kasih.

    • raizamn says:

      Pertanyaannya adalah apakah kamu benar-benar dikenal oleh calon pemberi rekomendasi?

      Kalau iya, tidak perlu apa-apa, mungkin cukup “perkenalan” bahwa kamu butuh beasiswa X sambil menyertakan informasi singkat (link dll) tentang beasiswa tsb.

      Jika tidak, mungkin perlu menambahkan CV atau informasi singkat tentang kamu yang bisa dipakai oleh pemberi rekomendasi, misal prestasi, bahwa kamu mahasiswanya yang paling pintar, kamu pernah ikut penelitian ini itu, sekarang kamu bekerja di mana, kenapa kamu mau daftar beasiswa, dll.

      Intinya, pastikan bahwa kamu memberikan informasi positif yang cukup tentang kamu agar surat rekomendasinya nanti tidak “sekedarnya”/terlalu generik. Surat rekomendasi yang mencantumkan alasan kenapa kamu diberi rekomendasi tentunya lebih bernilai daripada yang biasa-biasa saja.

      Akhirnya, pastikan pemberi rekomendasi mengerti format yang diminta. Ada beasiswa/program yang meminta format spesifik (misal tabel/form, online, dll), bukan sekedar surat biasa.

  3. Arif says:

    Hi Raizamm,

    saya kesulitan mendapatkan rekomendasi akademik. jujur saja secara akademis saya tidak menonjol. satu2nya dosen yang saya kenal (dan dia mengenal saya) adalah dosen pembimbing akademik yang sekarang sudah tidak diketahui rimbanya. tahun lalu melalui teman saya bisa dapet surat dari mantan rektor tapi sekarang saya berada jauh untuk dapetin itu lagi.
    bagaimana yak…

    matur suwun

    • raizamn says:

      Halo Arif,

      Silakan dilihat kondisinya, apakah surat rekomendasi akademik wajib dibutuhkan? Beberapa program mungkin memperbolehkan rekomendasi profesional saja.

      Jika memang wajib memiliki surat rekomendasi dari akademisi, ya berarti memang harus menghubungi pihak kampus (misal: sekjur, kajur, dosen pembimbing kemahasiswaan, dosen yang pernah mengajar mata kuliah yang diikuti, dosen pembimbing skripsi, dekan, rektor!, dll) yang kira2 bisa membuatkan surat rekomendasi. Pasti setidaknya ada satu orang yang bisa. Bukan hal yang aneh kalau mereka akan minta “template”-nya dari kita sendiri untuk kemudian diubah2 dan ditandatangani. Anggaplah “template” ini bagian dari upaya melihat keunggulan diri dari mata yang akan menandatangani surat itu nanti.

      Sekali lagi, kalau tidak yakin akan kemampuan sendiri bagaimana bisa meyakinkan pemberi beasiswa? Lulus dari perguruan tinggi toh itu juga prestasi :) Banyak template surat rekomendasi yang bisa dicari di Internet, silakan pakai.

      Semoga berhasil!

      • Annisa says:

        Saya siswi SMK , saya ingin mengajukan beasiswa untuk melanjutkan ke perguruan tinggi ..
        Tetapi masih bingung , bagaimana cara membuat surat permohonan beasiswa agar diterima ..
        dan kepada siapa sebaiknya meminta surat rekomendasi , apakah surat rekomendasi hanya dikeluarkan oleh sekolah terkait dibidang pendidikan ??
        Terima kasih

  4. Rizqiana Halim says:

    wahh trimakasih byk mas.. :)
    saya jdi ‘terbakar’ kembali..saya gk mau byk cakap dlu, saya akn usahakn mmenuhi syarat2..
    tp jika saya trbentur problem..maukah mas mmbntu saiia?? komen, kritikan sgt d btuhkan.. :)
    sekali lagi, trimakasih mas ….

  5. luluk says:

    saya dengar, pemberi rekomendasi akan lebih baik jika seseorang yg dikenal EU atau mempunyai jaringan di EU seperti dosen2 yg pernah sekolah di luar negri, dgn gelar luar negri apa itu benar?
    terimakasih

  6. Mengenai surat rekomendasi, apabila diminta mengirimkan aslinya (hardcopy) ke sekretariat, apakah maksudnya sekretariat EACEA atau sekretariat tiap Master Course? Apabila ke tiap Master Course, apakah berarti dengan 3 pilihan course, kita harus meminta 3 reference letter asli dari pihak2 yang akan kita mintai?

    Mohon pencerahannya.

Speak Your Mind

*